bear


Senin, 24 Oktober 2011

Pembuatan n-Butil Bromida


LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK I

I . NOMOR PERCOBAAN : VII
II . NAMA PERCOBAAN : Pembuatan N-Butil Bromida
III. TUJUAN PERCOBAAAN :
1. Agar mahasiswa dapat mensintesa suatu senyawa organik
2. Mahasiswa dapat memahami reaksi substitusi nukleofilik dalam pembuatan n-butil bromida.

IV . DASAR TEORI
Senyawa alkil halida telah banyak digunakan dalam penelitian dan bidang industry sebagai senyawa antara untuk menghasilkan senyawa-senyawa lain yang bermanfaat. N- butyl bromide termasuk senyawa alkil bromide primer yang dapat dibuat dari alcohol primer, yaitu n-butil alcohol (butanol) dengan mereaksikannya dengan natrium bromide dengan bantuan asm sulfat pekat dengan reaksi sebagai berikut :


C4H5OH + NaBr + H2SO4 → C4H9Br + NaHSO4 + H2O

Butil bromide merupakan salah satu halogen alkana yang dikenal juga sebagai alkil halide. Nama lain dari butil bromide adalah bromo butane atau bias saja juga disebut dengan butil bromida. Rumus bangun dari butyl bromide adalah sebagai berikut :
CH3 – CH2 – CH2 - Br
Butyl bromide
n-butil bromide
Butil bromide mengandung seebuah bromo (Br) disalah satu gugusnya. Bromo adalah unsur kimia dalam tabel periodic unsure yang memiliki symbol Br dan nomor atom dalam gugus fungsi. Gugus alkilnya “butil” dan satu atom hydrogen telah digantikan dengan unsur Br. Butil bromida digunakan sebagai agen alkil yang dapat menghasilkan group atau kelompok alkil butyl yang membentuk ikatan-ikatan karbon dalam sintesis organik.
Butil bromide mempunyai warna kuning, biasanya dalam wujud cair, jika dilarutkan dalam air kelarutannya relative kecil, bersifat stabil dalam keadaan biasa. Butyl bromide akan teroksidasi dalam cahaya, larut dalam eter dan etanol.
N-butil bromide digunakan atau dimanfaatkan dalam sintesis karbon organic. N-butil bromide juga termasuk produk yang dihasilkan melalui aksi substitusi klasik nukleofilik yang dilakukan oleh banyak laboratorium. Agencinya harus berkisar antara 218 – 700 ribu pon yang akan stabil dibawah suhu normal dan didalam tekanan yang normal.
Hyosene n-butil bromide adalah salah satu contoh dari butyl bromide yang berguna dalam obat-obatan. Disamping itu ada juga valemat bromide yang digunakan untuk mengurangi rasa nyeri.
Nukleofilitas adalah ukuran kemampuan suatu pereaksi untuk menyebabkan nukleofil melakukan reaksi substitusi. Nukleofilitas relative dari sederet pereaksi ditentukan oleh laju relative

CH3CH2 – Br + OH- → CH2CH2 – OH + Br-

H2O ROH- Cl- OH- OR- I- C = N
(naiknya nukleofilitas)
Suatu daftar nukleofilitas relative tidak parallel searah eksat dengan daftar kuat basa. Namun, suatu basa kuat biasanya nukleofil yang lebih baik daripada cl- atau H2O.
Adapun factor – factor yang mempengaruhi nukleofilitas adalah karena beberapa alkil halide dapat menjalani reaksi substitusi dan eliminasi yang saling bersaingan. Pereduksi seperti OH dapat bertindak sebagai suatu nukleofil maupun sebagai suatu basa dalam suatu bejana reaksi.
Banyak senyawa organologam yang bersifat toksic atau beracun dan harus digunakan dengan hati-hati. Misalnya tetraklorida (CCl4) dan kloroform (CHCl3) yang dapat mengakibatkan kerusakan hati bila dihirup berlebihan. Insectisida yang mengandung organologam seperti DDT digunakan secara meluas dalam pertanian. Namun , penggunaan itu merosot akhir-akhir ini dikarenakan efek yang merusak lingkungan. Dipihak lain , beberapa senyawa halogen tampaknya sangat aman dan beberapa digunakan sebagai pemati rasa hirupan. Contohnya , adalah halotana (CH3CHBrCl) dan metoksi flurana .
(Penuntun Belajar. Hal : 60-61)
Pembuatan n-butil bromide berdasarkan penelitian menggunakan SN2 dengan mengkonversi 1-butanol untuk bromide 1-bromo butane. Reaksi substitusi merupakan suatu reaksi dimana satu atom ion atau gugus disubstitusikan untuk menggantikan ion, atom atau gugus lain.

HO- + CH3CH - Br → CH3CH2 – OH + Br-
Ion hidroksida bromo etana etanol

Dalam reaksi substitusi alkil halide, halide itu disebut gugus pergi yang baik (leaving group). Suatu istilah yang berarti gugus apa saja yang dapat digeser dari ikatan-ikatannya dengan suatu atom karbon.
Spesiasi yang menyerang suatu alkil halide dalam suatu reaksi substitusi disebut nukleofil (nucleophile/ pencinta nucleus) sering dilambangkan dengan Nu. Dalam persamaan reaksi diatas , OH- dan CH3O- adalah nukleofil. Umumnya sebuah nukleofil adalah spesi apa saja yang tertarik ke suatu pusat positif. Jadi , sebuah nukleofil ialah suatu basa lewis. Kebanyakan nukleofil adalah anion, namun beberapa molkul polar yang netral, seperti H2O, CH3OH, dan CH3CH2 dapat juga bertindak sebagai nukleofil.
Molekul netral seperti ini memiliki pasangan electron menyendiri yang dapat digunakan untuk membentuk ikatan sigma. Substitusi oleh nukleofil disebut substitusi nukleofil atau pengganti nukleofil.
(Fessenden & Fessenden. Kimia Organik. Hal : 170)
Lawan dari nukleofil adalah elektrofil (pecinta electron) yang sering dilambangkan dengan ET. Suatu elektrofil adalah spesi apa saja yang tertarik ke puasat negative. Jaddi , suatu elektrofil adalah suatu asam lewis seperti H+ atau ZnCl2. Suatu asam lewis ini merupakan hasil pengembangan teori lewis dari teori asam basa. Arrhenius pada waktu yang hampir bersamaan dengan Bronsted dan Lowry (1923). Teori lewis memiliki kelebihan disbanding teori bronsted lowry yaitu teori tersebut memungkinkan penggolongan asam basa digunakan dalam rekasi-reaksi dimana baik H+ maupun OH- tidak ada. Dalam hal ini asam H+ adalah sebagai penerima pasangan electron .
(petrucci.kimia dasar II.hal : 203)
Pada kimia organic maupun anorganik, substitusi nukleofil adalah suatu kelompok dasar reaksi substitusi, dimana sebuah nukleofil yang kaya electron, secara selektif berikatan dengan atau menyerang muatan positif dari sebuah gugus kimia atau atom yang disebut gugus lepas.
Bentuk reaksi umum ini adalah :

Nu : + R-X → R-Nu + X

Dengan Nu menandakan nukleofil, yang menandakan pasanganelektron, serta R-X menandakan substrat dengan gugus pergi ke X. Pada reaksi tersebut, pasangan electron dari nukleofil menyerang substrat membentuk ikatan baru. Sementara gugus pergi melepaskan diri bersama dengan sepasang electron. Produk utamanya adalah R- Nu. Nukleofil dapat memiliki muatan listrik negative ataupun netral. Sedangkan substrat biasanya netral atau bermuatan positif. Contoh substitusi nukleofilik adalah hidrolisis alkil bromide (R - Br) pada kondisi basa, dimana nukleofilnya adalah OH- dan gugus perginya adalah Br-.

R – Br + OH- → R – OH + Br-

Reaksi substitusi nukleofilik sangat dijumpai pada kimia organic dan reaksi-reaksi ini dapat dikelompokkan sebagai reaksi reaksi yang terjadi pada karbon alifatik atau pada karbon aromatic atau karbon tak jenuh lainnya.
Sintesis biasanya terdiri dari penggabungan kepingan kecil dan sederhana menjadi molekul besar yang kompleks. Untuk membuat sebuah molekul yang mengandung banyak atom dari molekul-molekul yang mengandung atom lebih sedikit, dapat diketahui bagaimana membuat dan memecahkan ikatan kimia. Walau sintesis urea dari Wohler suatu kebetulan, sintesis akan lebih efektif dan terkendali jika dilakukan dengan cara-cara yang rasional, sehingga semua atom yang tersusun akan berhubungan satu sama lainnya dengan benar dan menghasilkan produk yang dihasilkan.
Ikatan kimia dibuat dan dipecahkan melalui reaksi-reaksi kimia. Dengan demikian kita dapat mempelajari bagaimana menyambung molekul-molekul secara spesifik, suatu pengetahuan dalam sintesis.
Pada saat ini senyawa organic yang telah disintesis dalam laboratorium dan industry kimia jauh lebih banyak daripada yang diisolasi (dipisahkan) dari alam tetumbuhan dan hewan. Ada beberapa alas an mengapa penting sekali sintesis molekul. Pertama , dapat mensintesis produk alam dilaboratorium dengan mudahvdan dalam jumlah besar dengan harga yang lebih murah dibandingkan dengan pemisahan dari alam.
Alasan lain untuk sintesis adalah untuk menciptakan zat-zat baru yang mungkin memiliki sifat-sifat yang lebih berguna dibandingkan dengan hasil-hasil alami. Serat sintetik seperti nilon dan orlon yang mempunyai sifat-sifat tertentu yang lebih berguna dan lebih baik dari serat alami seperti sutra, kapas dan sisal. Banyak senyawa dalam obat-obatan adalah sintetik (termasuk aspirin, eter, novocain, dan harbiturat).
Contoh dari reaksi substitusi nukleofilik yang terjadi pada gugus karbonil pada sebuah keton dan langsung melalui substitusi dengan senyawa hemiasetat yang tidak stabil. Pada kimia organic ataupun pada kimia anorganik, substitusi nukleofilik adalah suatu kelompok dasar reaksi substitusi.
Menurut kinetiknya reaksi nukleofilik dapat dikelompokkan menjadi reaksi SN1 dan reaksi SN2. Substitusi pada “ halogen alkana primer “ atau reaksi SN2. Nukleofilik adalah sebuah spesies (ion atau molekul) yang tertarik dengan kuat kesebuah daeraah yang bermuatan positif pada sesuatu yang lain.
Nukleofil dapat berupa ion-ion penuh atau memiliki muatan yang sangat negative pada suatu tempat dalam sebuah molekul. Nukleofil – nukleofil yang umum antara lain ion hidroksi, ion sianida, air dan amoniak. Perhatikan bahwa masing-masing nukleofil mengandung sekurang-kurangnya satu pasangan electron.
Pada alkil halide tersier tidak dapat bereaksi secara SN2, bagaimana produk substitusi itu, ternyata alkil halide tersier mengalami substitusi dengan suatu mekanisme yang disebut reaksi SN1 (substitusi nukleofilik unimolekular). Hasil eksperimen yang diperoleh dalam reaksi SN1 cukup berbeda dengan reaksi SN2 secara khas tanpa mengalami suatu stantiomer murni dari suatu alkil halide yang mengandung karbon C – X yang tidak mengalami reaksi SN1, maka diperoleh dalam reaksi SN2, juga disimpulkan bahwa pada reaksinya pengaruh konsentrasi SN2.
Mekanisme rekasi 1-butanol dengan hydrogen bromide berlangsung dengan pemindahan air oleh ion bromida dari bentuk protonasi alcohol (ion alkilosonium).
Florinasi nukleofilik menggunakan CSF atau flourida logam alkali sesuai pada waktu reaksi singkat dihadapan (bmim) (BF4) affording produk yang diinginkan tanpa produk sampingan. Substitusi nukleofilik seperti halogenations, acetoxylextoon natriliton dan nikoxylations dihadapan garam ionic menyediakan produk yang diinginkan dalam hasil yang baik.
Atom halogen (F, Cl, Br atau I) dapat diwakili oleh X. dengan menggunakan lambing umum, maka alkil halide ialah RX dan aril halide seperti bromo benzene (C6H5Br) ialah ARX. Ikatan sigma karbon halogen terbentuk oleh saling mendidihnya suatu orbital atom halogen dan suatu orbital halogen atom karbon. Tak dapat dipastikan mengenai ada tidaknya hibridisasi atom karbon. Dalam suatu halide organic, karena sebuah halogen hanya membentuk satu ikatan kovalen dank arena itu dapat sudut ikatan disekitar atom ini. Namun, karbon menggunakan orbital halide yang sama tipenya untuk mengikat halogen maupun atom karbon lain.
Dalam reaksi kimia, struktur bagian alkil (dari) alkil halide berperan. Oleh karena itu peru dibedakan empat tipe alkil halide yaitu : metil , primer, sekunder, dan tersier. Suatu metil halide ialah suatu struktur dalam suatu hydrogen dari metana yang telah digantikan oleh sebuah halogen. Karbon ujung alkil halide ialah atom karbon yang terikat pada karbon ujung alkil halide primer (1.) (RCH2X) mempunyai satu gugus alkil terikat pada karbon ujung. Alkil halide primer (satu gugus alkil terdekat pada ujung)

CH3 → CH2Br
Bromoetana (etil bromida)

Suatu alkil halide sekunder (2.) (R2CHX) mempunyai dua gugus alkil yang terikat pada karbon ujung, dan suatu alkil halide tersier (3.) (R3CHX) mempunyai tiga gugus alkil yang terikat pada karbon ujung (perhatikan bahwa sebuah halogen yang terikat pada suatu sikloalkana haruslah sekunder atau tersier).
Karena dapat bereaksi lebih dari satu reaksi antara sebuah alkil halide dan sebuah nukleofil atau basa, maka reaksi substitusi dan reaksi eliminasi dikatakan sebagai reaksi bersaing. Reaksi bersaingan lazim dijumpai dalam kimia organic. Karena campuran produk kebanyakan persamaan organic tidak dilengkapi secara stokiometris.
Dalam SN2 alkil halide, metil halide menunjukkan laju tertinggi, diikuti oleh alkil halide primer, kemudian alkil halide sekunder. Alkil halide tersebut tidak bereaksi SN2.

3. RX 2. RX 1. RX CH3X
Naiknya laju reaksi SN2

Dengan bertmbahnya jumlah gugus alkil yang terikat pada karbon ujung (CH3X → 1. + 2. → 3.), keadaan transisinya bertambah berjejal dengan atom. Perhatikan contoh berikut dari reaksi alkil bromida dengan ion metoksida (CH3O-) sebagai nuklofil (CH3O- + RBr → CH3OR + Br-), yang ditunjukkan. Jejealan ruang dalam sturktur-struktur disebut rintangan sterik (steric hindrance). Bila gugus-gugus besar berjejalan dalam suatu ruang sempit, tolak-menolak antara gugus bertambah parah dank arena itu energy system tinggi. Dalam suatu reaksi SN2 energi suatu keadaan transisi yang berjejal lebih tinggi daripada energy keadaan transisi dengan rintangan sterik pindah. Karena inilah maka laju reaksi makin menurun dalam deret metil, primer, sekunder dan tersier.


V. ALAT DAN BAHAN

Alat
Gelas beker
Spatula
Labu didih
Refraktometer
Gelas ukur
Corong pisah
Kondensor refluks
Seperangkat alat destilasi

Bahan
n-butanol
H2SO4
NaBr/KBr
NaOH
Na2SO4 anhidrat

VI. PROSEDUR PERCOBAAN

Siapkan 13,5 gr NaBr/KBr, larutkan dengan 20 ml air dalam gelas beker. Tuangkan kedalam labu didih yang telah berisi 10 ml butanol. Dinginkan campuran dalam wadah yang berisi es dan secara perlahan-lahan tambahkan 1,5ml asam sulfat pekat sambil diaduk pelan-pelan (hati-hati mudah meledak). Pasang seperangkat alat kondensor dan refluk, kemudian refluk sampai mendidih selama 30menit sampai terbentuk dua lapisan (uji larutan dengan penambahan larutan garam) dimana lapisan atas adalah n-butil bromida. Hasil refluks dipisahkan dengan corong pisah dan keringkan dengan Na2SO4 anhidrat. Hitung rendemennya.

VII. PEMBAHASAN
Nukleofil merupakan suatu spesi yang tertarik pada suatu pusat positif. Suatu nukleofil memiliki pasangan elektron bebas yang dapat digunakan untuk membentuk ikatan sigma. Oleh karenanya, suatu nukleofil umumnya merupakan suatu basa lewis. Pusat positif yang akan diserang oleh nukleofil disebut sebagai elektrofil. Elektrofil ini sendiri merupakan spesi apa saja yang tertarik ke atom pusat negatif. Suatu elektrofil merupakan suatu asam lewis. Reaksi substitusi merupakan suatu reaksi penggantian ion, atom, atau gugus dengan suatu atom, ion, atau gugus lainnya. Apabila gugus yang mensubsitusi tersebut merupakan suatu nukleofil maka substitusi ini disebut sebagai substitusi nukleofil.
Dalam pembuatan n-butil bromide pada percobaan kali ini, digunakan alat kondensor repluks. Repluks itu sendiri merupakan suatu cara mendidihkan cairan atau larutan dalam wadah labu dilatasi yang ditampung dengan alat pengembun sehingga cairan atau larutan didalam labu takar tersebut akan terus-menerus kembali ke wadahnya. Proses repluks ini meliputi proses pencairan dan penguapan ulang. Fungsi proses repluks ini ditujukan untuk mempercepat atau menyempurnakan reaksi yang sedang berlangsung.
Pada proses merepluks kita menggunakan batu didih. Batu didih yang dipakai berupa batu keramik (pecahan keramik) yang berukuran kecil saja. Penggunaan batu didih ini difungsikan untuk menyerap gas karbondioksida yang timbul, sehingga tekanan dalam labu didih saat proses repluks berlangsung dapat dipertahankan dan juga bisa mengurangi terjadinya ledakan karena tekanan uap yang besar. Tahap setelah proses merepluks selesai maka kita memulai tahap ekstraksi. Ekstraksi ini merupakan suatu proses pemisahan campuran berdasarkan perbedaan kelarutan. Tujuan dilakukannya ekstraksi ini untuk memisahkan n-butil bromide yang didapatkan dengan air beserta hasil produk-produk lain yang terlarut dalam air itu. Massa jenis n-butil bromide lebih kecil daripada massa jenis air. Hal ini terlihat dalam corong pemisah dimana terlihat dua lapisan yang tercipta, n-butil bromide dan air. Dari hal tersebut dapat kita ketahui bahwa larutan antara air dan n-butil bromide terdapat dalam fase yang berbeda. Bagian atas dari larutan tersebut merupakan n-butil bromide dan bagian bawahnya merupakan kandungan air beserta produk-produknya. Ketika proses ekstraksi berlangsung, sesekali tutup corong pisah diputar. Hal ini ditujukan agar kandungan gas atau uap yang dihasilkan dalam proses ini dapat terbuang.
Selesai melakukan ekstraksi, tahap selanjutnya yang kita lakukan merupakan pemisahan antara n-butil bromide dengan campuran lainnya yang tidak diinginkan. Alat yang digunakan merupakan corong pisah. Corong pisah ini sendiri bekerja dengan memanfaatkan pebedaan massa jenis larutan. Saat keran corong pisah diputar, maka larutan bagian bawah akan keluar dan sementara itu n-butil bromide nya akan tertahan dalam corong pisah. N-butil bromide yang didapatkan dapat kita ukur berapa banyak volumenya. Pengukurannya ini dapat dilakukan dengan menuangkan larutan n-butil bromide kedalam gelas ukur, gelas beaker, ataupun media gelas pengukuran lainnya.
Analisa merupakan suatu metode yang mengamati maupun mengkaji hipotesis-hipotesis yang telah kita perkirakan sebelumnya. Analisa terbagi atas dua macam, berupa analisa kuantitatif dan analisa kualitatif. Analisa kuantitatif merupakan analisa atau pengamatan berupa pengukuran-pengukuran ataupun perhitungan terhadap bobot senyawa atau larutan maupun volume larutan atau senyawa yang akan diamati. Analisa kuantitatif terbagi atas analisa kuantitatif gravimetri dan analisa kuantitatif volumetri. Analisa kuantitatif gravimetri ini merupakan analisa atau pengamatan terhadap bobot tetap atau bobot kering dari suatu senyawa setelah proses pemanasan atau penggeringan. Lalu analisa kuantitatif volumetri ini merupakan analisa atau pengamatan terhadap volume dari larutan yang dipakai dalam praktikum mengukur jumlah larutan yang digunakan. Contoh analisa kuantitatif volumetri digunakan pada titrasi asam basa volumetri. Analisa kualitatif merupakan suatu analisa atau pengamatan terhadap perubahan fisik dari larutan atau senyawa yang diujikan. Pengamatan dari perubahan fisiknya dapat berupa pengamatan terhadap warna, aroma, suhu, larut atau tidak larut, dan ada tidaknya endapan.
Analisa yang digunakan pada percobaan ini berupa analisa kuantitatif dan kualitatif. Analisa kuantutatifnya berupa pengukuran –pengukuran dari reagen yang akan digunakan pada pembuatan n-butil bromide dan akhir dari pengukuran hasil murni n-butil bromide itu sendiri. Kemudian analisa kualitatifnya terhadap pengamatan larut dan tidak larutnya n-butil bromide dengan air. Pada prakteknya jumlah produk yang dihasilkan tidak tepat sama dengan jumlah yang didapatkan dari hasil perhitungan stoikiometri atau secara teorintya. Kondisi-kondisi percobaan sangat menentukan hasil akhir yang didapat dalam sebuah poercobaan. Apakah suatu suhu yang diterapkan pada sistem telah sesuai atau belum. Ataupun ada tidaknya kehilangan kalor selam proses berlangsung. Apakah pengukuran jumlah reagen yang digunakan telah benar sesuai prosedur atau belum. Apakah instrument pengukurannya masih berfungsi atau tidak. Apakah praktikan tidak mengalami kesalahan dalam pembacaan skala pada alat pengukuran. Semua itu dapat menjadi penyebab reaksi tidak berlangsung denghan menghasilkan produk seratus persen sebagaimana yang telah diperkiran sebelumnya. Besar penyimpangan atau perbedaan jumlah produk yang dihasilkan dari praktik dengan jumlah yang diperkirakan dari perhitungan secara stoikiometri dapat diketahui dengan menghitung persentase rendemennya.
Reaksi endoterm dan eksoterm selalu terjadi dalam suatu percobaan. Adapun ciri-ciri dari reaksi endoterm berupa entalpi H-nya bernilai positif, suhu yang terasa normal sampai dingin karena pada reaksi ini terjadi penyerapan energi panas atau kalor, dan reaksi bekerja dari lingkungan menuju sistem. Kemudian kebalikan dari reaksi endoterm, maka reaksi eksoterm bercirikan entalpi H-nya bernilai negatif, suhu yang terasa panas karena pada reaksi ini terjadi pelepasan panas atau kalor, dan reaksinya bekerja dari sistem menuju lingkungan. Pada percobaan ini berlangsung reaksi eksoterm dan endoterm. Reaksi eksotermnya terlihat pada saat merepluks maka suhu luar yang terasa panas; timbul uap atau embun dari pereplukskan. Lalu reaksi endotermnya terlihat saat pendinginan larutan yang akan diujikan diletakan dalam wadah yang berisi bongkahan es batu dan suhu luar yang terasa pun dingin.
Pada hasil akhir dari perepluks-an kemudian diekstraksi maka akan terlihat gejala kelarutan. Kelarutan itu merupakan jumlah maksimal suatu zat atau senyawa dapat terdispersi dalam larutan pendispersi. Larutan pendispersi kita kenal juga sebagai pelarut yang berguna melarutkan suatu zat atu senyawa, sedangkan larutan terdispersi kita kenal juga sebagai larutan yang terlarut atau yang akan dilarutkan dalam suatu pelarut atau pendispersi. Banyaknya zat atau senyawa yang akan ditambahkan pada suatu larutan dinamakan konsentrasi. Umumnya untuk mendapatkan sebuah larutan yang baik, maka jumlah atau volume dari pelarut harus lebih besar dari zat yang akan dilarutkan. Larutan terbagi atas larutan jenuh, belum jenuh, dan lewat jenuh. Faktor yang mempengaruhi kelarutan suatu zat atau senyawa diantaranya faktor temperatur atau suhu, tekanan, efek ion senama, ukuran wadah, maupun kemurnian pelarut tersebut. Biasanya semakin tinggi suhu yang diberikan untuk melarutkan suatu zat terlarut maka akan semakin mudah dan mempercepat proses kelarutan dari zat yang akan dilarutkan. Air merupakan pelarut universal dan memiliki tingkat kemurnian yang tinggi. Selain air sebagai ion zwitter, murah dan mudah didapat, keseterdiaan air di muka bumi ini banyak pula.

VIII. KESIMPULAN
  • Sintesis n-butil bromide termasuk dalam reaksi substitusi.
  • Asam sulfat berperan sebagai katalis dalam percobaan pembuatan n-butil bromide ini.
  • Prinsip kerja corong pisah memisahkan campuran berdasarkan perbedaan massa jenis dari larutan.
  • Massa jenis larutan yang lebih kecil terletak diatas larutan dengan massa jenis yang besar.
  • Terlihat pada percobaan larutan n-butil bromide terletak diatas dan larutan air beserta produk-produk yang terlarut terletak pada bagian bawah dari corong pemisah.
  • Analisa kuantitatif yang digunakan berupa pengukuran terhadap volume n-butil bromide yang didapatkan dan analisa kualitatifnya berupa pengamatan terhasdap perbedaan kelarutan dari n-butil bromide dan air.
  • Reaksi yang berlangsung saat merepluks berupa reaksi eksoterm.

IX. DAFTAR PUSTAKA
Fessenden & Fessenden. 1982. Kimia Organik I. Jakarta : Erlangga.
Lestari, Sri.2003. Penuntun Belajar. Bandung : Kawan Pustaka.
Petruci, Ralph H. 1999. Kimia Dasar II. Jakarta : Erlangga.
Gultom, Ostan, Jeski. 2011. Pembuatan n-Butil Bromida. http://eiffelgultom.blogspot.com/2011/05/pembuatan-n-butil-bromida.html (Diposkan oleh Eiffel Ostan Jeski Gultom di 09:58)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar